Student Life: Menjadi Mahasiswa S2 di Belanda

Finally made my first post here, yay!

Akhir tahun 2017, aku memutuskan buat lanjut studi S2 karena memang orientasinya mau berkarir sebagai dosen di masa depan. Menurutku, ada banyak standar yg harus dipenuhi biar 'nilai jual' kita naik, misal latar belakang pendidikan yang memadai, publikasi (nasional dan internasional), pengalama kerja, dan lain-lain. Nah, buat mendongkrak 'nilai jual' individu receh seperti saya ini, maka kubulatkan tekad untuk melamar program magister di luar negeri.

Setelah prosedur pendaftaran dan seleksi yang cukup ringkas, albeit waktu tunggunya yang agak lama, aku siap-siap berangkat ke negara tujuan: Belanda. Nggak cuma barang bawaan yang harus dipikir, tapi juga caranya menjembatani perbedaan kultur dan kebiasaan belajar mahasiswa di Belanda. They might be the same, might also be starkly different!

Di sini, most people learn from open discussion selama kuliah berlangsung. Mau tanya? Bebas aja, tinggal angkat tangan dan lontarkan pertanyaan. Kalau masih ada yang belum sempat ditanyakan, send an email to your lecturer. Baca buku nggak? I personally do, tapi majority of the knowledge dapat dari kuliah di kelas dan sumber-sumber lain seperti publikasi ilmiah atau seminar. Youtube also helps! #GenerasiYoutube

Di universitas tempatku belajar, kita bebas memilih course apa aja yang mau diambil dalam satu tahun. Secara spesifik di program studiku (Oncology), kita wajib ambil mandatory courses. Dalam satu tahun ajaran ada 6 periode, dan masing-masing periode ada mandatory courses yg harus kita ikutin termasuk internship/magang. Periode 1 (September-Oktober) memang cenderung lebih sibuk dibanding periode lainnya. In September, I have to attend classes everyday, 5 days a week (dulu waktu S1 aja nggak tentu setiap hari ada kuliah) and 3-4 days/week in October. Sounds tough? Kind of, karena aku pribadi ngerasa perlu banyak catch up materi yang mungkin perkembangannya udah jauh banget dibanding apa yang aku pelajari waktu S1 dulu.

Setelah selesai kelas, terus ngapain?
Aku biasanya pulang, masak (buat makan siang-makan malam), terus lanjut belajar materi hari berikutnya. Sounds like jadwal belajar anak SD? Pretty much! Tapi nggak semua mahasiswa begini kok. Ada yg memilih stay di perpustakaan buat ngerjain tugas atau sekedar baca buku, ada yg kerja part-time, ada yang dolan atau kumpul bareng temen, dan ada juga yg pulang terus tidur (mungkin). Ada banyak kesempatan buat having fun juga kok, misal international student party yang diadain seminggu sekali.

Ujian biasanya diadain tiap akhir bulan (hari Jumat terakhir pada bulan tertentu), karena 1 course biasanya disampaikan dalam 3-4 minggu. Ada ruang khusus buat ujian, namanya De TenT (short for tentamen), it's so unique karena bangunannya lumayan beda dari yang lain. Skor ujian umumnya 0-10, dan batas lulus sih (katanya) 5.5. Most students dapet nilai di range 6-7, although nggak sedikit juga yang bisa tembus angka 8-9. Angka 10? The perfect score is for God, they say.

Pada intinya, semua orang disini menghargai mahasiswa sebagai individu yang punya kebebasan dalam menentukan pilihan masing-masing. Bebas mau tinggal dimana aja, datang kelas apa, pilih course yang mana, internship di bidang apa/kota mana, dan lain-lain. Tentunya kita dianggap bisa mempertanggungjawabkan pilihan kita sendiri, that's what they expect from us. Selain itu, menurutku sih personal growth and satisfaction lebih berharga buat orang-orang disini daripada urutan/rank di kelas. However, menurutku it never hurts kalau kita bisa dapat skor yg lebih tinggi sih, karena I'm aiming for a scholarship buat studi di tahun kedua.

I guess that should be enough for now, siapa pula yang mau baca blog post 3000 kata LOL. I'll keep you updated tentang kehidupan di Belanda (as well as other fun stuffs!) as quickly as possible!

Tot dan!

Comments